Itulah yang pernah saya rasakan beberapa tahun silam. Kelulusan di Universitas Andalas melalui jalur UMPTN membuat saya harus merantau dari daerah asal di Sumatera Utara menuju Padang. Sebuah daerah yang sebelumnya sama sekali belum pernah saya kenal dan kunjungi. Tak ada sanak saudara apalagi kenalan di daerah itu. Walaupun jurusan yang saya pilih di Unand merupakan pilihan terakhir dan tak sepenuh hati, namun terpaksa saya mengambilnya. Selain karena bingung mau kuliah dimana, rasanya peluang untuk lulus universitas negeri belum tentu terulang lagi.
Menjadi anak rantau tidak selalu mudah. Perbedaan geografis, adat budaya dan bahasa menjadi kendala utama saat itu. Karena mayoritas masyarakat Padang menggunakan bahasa minang dalam aktivitas sehari-hari, termasuk di kampus. Masa perploncoan yang melelahkan terasa lebih melelahkan karena saya sama sekali tak paham apa yang dikatakan senior. Tugas-tugas mata kuliah, kegiatan laboratorium, laporan harian yang harus diketik dengan mesin tik mendesak setiap hari ,membuat diri semakin tertekan.
Perasaan sedih semakin sering menghampiri saat merasakan kerinduan yang besar kepada keluarga. Saat itu belum ada handphone yang bisa menghubungkan dengan keluarga dengan hanya sekali klik tombol. Saya yang dahulunya tak pernah berlama-lama jauh dari rumah menanggung homesickyang teramat berat. Saat tertekan sering saya berfikir, kenapa saya mesti terdampar di sini dan terkadang saya merasa terbuang karena jauh dari keluarga. Tak terhitung berapa kali saya menangis diam-diam menanggung kesedihan. Kadang muncul fikiran untuk menyerah saja. Saya akan berhenti kuliah dan menunggu UMPTN berikutnya untuk memilih jurusan di Medan saja.
Tapi, ternyata Allah mempersiapkan rencana lain. Saya mendapat kos di sebuah rumah kos yang dikelola FORSTUDI (Forum Studi Islam) Faperta Unand. Rumah kos itu mereka namakan Wisma. Sayapun tinggal disana tanpa disengaja. Awalnya kebetulan bertemu seorang senior di auditorium Unand saat sedang mencari kos, saya pun diajak tinggal di wisma tersebut. Pertama tinggal bersama 6 orang penghuni wisma membuat saya sedikit kaget.Karena mereka terlihat ramah,baik dan berbicara dengan lembut. Berbanding terbalik dengan senior di kampus yang selalu jaga wibawa dan garang selama masa perploncoan. Sikap keras saya yang terkadang masih terbawa-bawa selalu mereka sikapi dengan kebaikan.
Tidak terasa beberapa bulan menjalani perkuliahan semester I, Ramadhan yang mulia pun menjelang. Rasa rindu terhadap keluarga di kampung semakin menggumpal saat saya akan menjalani ramadhan pertama jauh dari keluarga. Nuansa syahdu ramadhan akan terasa semakin syahdu karena saya harus terbiasa mandiri. Lidah pasti akan begitu merindukan masakan ibu yang biasanya menemani sahur dan berbuka.
Tapi ternyata tinggal di wisma sedikit melunturkan kekhawatiran saya tadi. Bantuan sangat saya rasakan di sana. Dengan ukhuwah yang diciptakan di semua sudut rumah dari setiap penghuninya membuat ramadhan kali itu terasa berbeda. Saya yang merupakan satu-satunya junior di sana, perlahan diajak mengenal islam yang indah. Ramadhan diisi dengan sahur bersama, kultum sesudah subuh, berlomba-lomba tilawah Al-qur’an dan menghafalnya, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Upaya menyemarakkan ramadhan tidak hanya dilakukan di dalam wisma tetapi juga diamalkan di sekitar. Semua anggota wisma terlibat aktif dalam kepanitiaan pesantren kilat remaja di masjid kompleks kami tinggal. Wisma juga memiliki program berbagi ta’jil/makanan untuk buka puasa ke tetangga sekitar rumah. Dengan makanan yang kami masak bergantian.
Saat itu saya merasakan suasana sebuah keluarga! Malah beberapa kegiatan bagi saya adalah hal yang baru dan belum pernah saya lakukan saat masih di kampung dulu. Saya merasakan suatu keasyikan. Suatu gairah baru dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Tapi ternyata garis besarnya, Allah mengarahkan saya untuk lebih mengenal islam. Suatu saat kelak dalam hidup saya, baru saya menyadari bahwa itu mungkin cara Allah menyampaikan hidayah-NYA tanpa saya sadari.
Momentum ramadhan kali itu, menjadi titik tolak saya mendapat sebuah kesadaran. Bahwa ilmu agama yang saya miliki masihlah teramat kurang. Baca’an Alqur’an saya masih perlu perbaikan dengan belajar ilmu tajwid. Jilbab yang saya kenakan secara seadanya dan terkadang bongkar pasang ternyata menyimpan makna besar bagi harga diri seorang muslimah sehingga harus dijaga kekonsistenannya. Dan banyak kesadaran lain yang muncul. Walaupun beberapa ilmu keislaman telah saya ketahui sebelumnya namun kesadaran dalam melaksanakannyalah yang menjadi pembeda. Melaksanakan dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan.
Rencana Allahlah sebaik-baik rencana. CintaNYA lah yang mengalirkan sebuah kesadaran di dalam kalbu laksana air dingin yang menyejukkan kegersangan. Kesadaran itu diiringi tekad untuk menjadi muslimah yang semakin baik walaupun itu akan melalui proses yang tidak sebentar. Dan,saya merasakan islam yang indah melalui ramadhan syahdu tersebut.
Bertahun telah berlalu, terkadang saya diingatkan kejadian-kejadian lampau. Dan waktu pulalah yang telah menunjukkan jawaban, bahwa Allah menghantarkan saya ke Padang bukanlah karena saya terbuang atau terdampar tanpa arti. Tapi ada sebuah grand design dariNYA bahwa kelak saya akan menempuh jalan dimana setiap langkah kaki dan perbuatan diniatkan hanya untukNYA, segala tujuan diakhirkan hanya pada ridhoNYA, dan saya berharap itu akan senantiasa terjaga dengan memegang keistiqomahan pada agamaNYA. Hingga kelak di akhirnya saat masa pertanggungjawaban itu tiba.
Amiin Ya Rabbal ‘Alamin..
BIODATA
Nama : FITRI SARI ANGKATTTL : Sidikalang, 22 Agustus 1979
HP : 085265759901
JUARA II LOMBA MENULIS KISAH INSPIRATIF
TEMA “FROM ZERO TO HERO WITH RAMADHAN”

0 komentar:
Posting Komentar