Tahun ini menjadi tahun ke dua dan semester ke empat masa perkuliahan di salah satu kampus kebanggan orang Minang di Padang. Memang sebelumnya, aku tidak berkehendak untuk kuliah di sana. Apalagi diizinkan mengenyam bangku perkuliahan dalam menggapai mimpi tersebut. Tetapi ada nikmat baru yang datang membawaku ke pintu pencapaian hingga bisa kuliah sampai saat sekarang ini.
Aku percaya Allah menolong hamba-Nya yang mengalami kesusahan dan aku juga percaya akan ada sebuah rintangan maupun halangan dalam menggapai pencapaian yang telah Allah berikan padaku. Tentu saja cara indah yang diberikan Allah harus diselesaikan dengan cara indah pula. Agar yang indah-indah tersebut menjadi sekuntum mimpi yang akan kuhidangkan bersama orang-orang terkasih di sekelilingku.
Aku masih bertanya atas nikmat manakah yang belum Allah kabulkan padaku. Di tahun 2015 lalu, alhamdulillah buku perdanaku resmi diluncurkan dan memberikan semangat teristimewa dalam hari-hari yang telah berkelana bersamaku. Hingga deretan buku antologi cerpen dan puisi nasional juga turut memenuhi rak buku di kamar wismaku di Padang. Masya Allah, nikmat Tuhanmu manakah yang masih kau dustakan saat ini? Ya, aku tidak bisa untuk berkata demi mencapai nikmat yang telah Allah berikan padaku. Sampai-sampai aku malu membayangkan apa yang telah kubuat untuk-Nya. Salat pun masih sumbang, baca al-Qur’an masih terkendala waktu dan segala amalan yaumi pun masih saja kulalaikan. Akan tetapi, aku mencoba untuk membenahinya lewat mentoring atau liqo’ bersama teman-teman yang berbeda fakultas denganku. Mungkin dengan cara inilah aku berusaha agar Allah tidak kecewa denganku, supaya Allah tidak kubohongi atas nikmat yang telah ia curahkan padaku.
Tahun 2016 terus berlalu, hingga malam ini, malam kala tulisan ini kutuliskan demi berbagi inspirasi untuk sahabatku semua. Ya, minggu ini aku telah ditipu Allah. Allah dengan sengaja berhasil menipuku di bumi-Nya. Kenapa aku berpikir seperti itu? Ketika aku dekat dengan-Nya, ketika aku ingin bersama-Nya, dan saat itulah Allah mulai menjauh dan enggan bersamaku. Apakah aku masih hina? Apakah aku tidak pantas bersama-Nya? Atau memang aku telah berdosa pada-Nya.
Malam ini mulailah hilang sebuah pinta yang tidak diberikan Allah padaku. Astaghfirullah dengan ucapanku. Jujur, air mata dan beberapa helai kekecewaanku terbang menjadi do’a penyelimut malam di bulan ramadan yang dingin ini. Benar menusuk rongga napas dan menohok hati yang hampir hancur berkeping. Aku kecewa. Ya, inilah kekecewaan yang sudah kutahan bersama-Nya lewat senyum dan air mata selama enam bulan terakhir ini. Akan tetapi, minggu ini terjatuh semua kesedihan atas kegagalanku yang mulai menggoyahkanku.
Aku kecewa atas pengorbanan yang telah kuserahkan pada-Nya. Dari waktu tidurku dan waktu sempitku kuusahakan untuk mengingat-Nya. Mungkin waktu itulah aku hanya mengingat lewat sujud dan kerendahan hati atas aktivitas yang telah kulakukan hampir dua puluh empat jam yang melelahkan. Ya, semester inilah menjadi semeter paling melelahkan dari tiga semester yang lalu. Mungkin akan ada semester yang lebih menyibukkanku. Sehingga aku takut apakah aku akan melupakan-Nya lewat sujudku? Dan apakah Allah akan kembali menipuku dalam sujudku?
Allah telah menipuku lewat do’a-do’a yang tidak ia kabulkan. Mungkin aku telah lama untuk menunggu hari bersejarah demi mewujudkan semua ini. Mungkin aku telah lelah menunggunya hingga timbul kekecewaan ini. Dari sebuah nilai semester yang tidak mencapai target menambah permasalahan dan kekecewaan di hidupku. Ditambah dengan beasiswaku yang hampir terancam diputus, karena belum ada kejelasan yang pasti dari pihak kampus. Entah aku yang terlalu egois pada Allah atau kekecewaanku yang telah memuncak. Sehingga aku dengan berani menuduh Allah telah berhasil menipuku. Astaghfirullah.
Dari hal inilah, aku mulai mencoba untuk mengingat apa-apa yang telah kulakukan sebelumnya. Apakah waktu ketika aku curhat pada-Nya yang kurang menjadi faktor kenapa Allah tidak memberikannya. Apakah aku telah lalai mengerjakan kewajibanku pada-Nya hingga aku terlalu menuntut pada-Nya. Hingga Allah merasa bahwa semuanya patutlah kuterima untuk kembali dekat bersama-Nya lagi. Tentu setelah Salat Isya’ dan Tarawih malam ini, aku telah mencoba untuk melupakan hal tersebut dan kembali ingin lebih dekat dan sempurna di mata-Nya. Memang tiada manusia yang sempurna di dunia ini. Sebab kesempurnaan hanyalah milik Allah.
Subhanallah. Mungkin dengan cara inilah Allah memberikan hukuman bagiku. Mungkin dengan semacam ini Allah memberikan inspirasi dalam menulis hal ini. Sebab aku belum pernah mencoba menulis kisah inspirasi semacam ini. Kemungkinan besar akan ada kado terindah yang paling Allah rahasiakan padaku, agar tangis dan kekhilafan itu menjadi sebuah kenyataan yang Allah janjikan. Mungkin saja Allah memberikan ujian ini agar aku bersabar demi menunggu kado indah itu datang padaku. Masya Allah. Hingga malam ini aku masih percaya akan ada kado terindah dan teristimewa yang Allah berikan padaku. Apakah besok atau lusa atau bulan depan? Entah semua takdir—Allah-lah yang menentukannya. Hingga aku sadar bukan Allah yang menipuku, tetapi sifatkulah yang menipu Allah di waktu sujudku dan di hari-hariku.
Pariaman, 10 Juni 2016
23:16 WIB
Biodata Penulis :
Arif Rahman Hakim, lahir di Desa Sikapak Mudik Pariaman, 11 September 1996. Setelah menamatkan sekolah di SMK Negeri 2 Pariaman, ia melanjutkan studi di Universitas Andalas jurusan Sastra Daerah Minangkabau angkatan 2014. Di kampus ia menjadi aktivis di bidang kajian ilmiah dan syiar Islam FSI FIB Unand. Ia bisa dihubungi di nomor handphone: 0822 8820 6484.
JUARA I LOMBA MENULIS KISAH INSPIRATIF
TEMA “FROM ZERO TO HERO WITH RAMADHAN”


Alhamdulillah, di post juga akhirnya. Semoga menginspirasi.
BalasHapusOmong-omong. Ikhwah, sertifikatnya belum dikirim ya?
Mohon responya. terima kasih, jzk
Alhamdulillah.... Semangat uda :)
BalasHapusAlhamdulillah, semoga tetap dan selalu semangat ya,
Hapus