Berpenat-penatlah dalam dakwah .... Berlelah-lelah di dalamnya,boleh jadi saat amal kita tak cukup ,maka butir-butir airmata dan tetesan keringat itulah yang akan menjadi syafaat kita kelak.....ALLAHU AKBAR!

Jumat, 22 Juli 2016

Nabi Saw mengajarkan umatnya untuk selalu jujur baik dalam berkata maupun dalam perbuatan. Jujur itu baik walaupun terasa pahit. Jujur, aku tidak berniat untuk menulis karena hal itu yang paling membosankan bagiku, tapi ketika ada perlombaan menulis dan salah satu guru bilang jika ada kesempatan maka manfaatkanlah kesempatan itu sebaik-baiknya, aku rasa itu hal yang benar, bisa saja aku menemukan jati diriku dalam menulis walaupun aku tidak menyukainya. Apa salahnya saya mencoba jika kesempatan itu akan memberikan perubahan yang baik.

            Namaku Filza Syadi biasa dipanggil Filza, anak ke - 4 dari 6 bersaudara. Aku memiliki 4 saudara laki-laki yang menyebalkan dan 1 saudari yang ngeselin. Aku tamat dari SDN 16 Sungai Geringging, MTsN 1 Sungai Geringging, dan sekarang aku belajar di SMAN 1 Sungai Geringging. Walaupun aku tamat dari sekolah-sekolah di Sungai Geringging saja tapi aku akan kuliah di luar Negeri. Aamiin

            Setelah tamat di MTsN aku berkeinginan melanjutkan pendidikanku di sekolah yang berbobot tapi hal itu tidak kesampaian karena takdir membawaku belajar di sekolah SMAN 1 Sungai Geringging yang penuh dengan bocah nakal, arogan, dan menyebalkan.

            Walaupun aku sempat patah semangat untuk belajar disini dan sempat berfikir bahwa aku tidak akan sukses setelah tamat disekolah ini. Tapi aku sadar kesuksesanku tidak terlihat dari mana aku tamat, jika aku menjalankan pendidikanku dengan sungguh-sunguh aku yakin aku bisa jadi orang yang sukses. Anggapanku bahwa murid-murid di sekolah ini yang sangat nakal , arogan dan menyebalkan itu pun juga salah, karena tidak semua murid disini seperti itu, masih banyak mereka yang memiliki budi pekerti yang baik.

            Di sekolah ini aku memiliki banyak teman tapi sedikit sahabat, salah satunya Ela Julita gadis yang baik hati pendiam dan sangat pemalu. Banyak orang yang bilang kami itu seperti “pinang yang dibelah dua” dimana ada Filza disitu ada Ela dan sebaliknya. Bagiku Ela adalah orang yang sangat luar biasa, Ela tidak pernah pelit untuk berbagi dan terus berbuat baik. Bahkan ela masih bisa berbuat baik dengan orang yang selalau menyakitinya, selalu memaafkan kesalahan orang lain. Tetapi ada satu hal yang menbuatku sedih, ketika ada orang yang memanfaatkan kebaikannya untuk kepentingan pribadinnya.

            Aku tidak pernah bisa menjadi sepertinnya, karena kami orang yang berbeda yang memiliki sifat yang selalu berlawanan, jika Ela pemalu, pendiam, hati-hati dan sabar, maka aku adalah orang yang sebaliknya.

            Pertemanan itu memang penting, karena temanlah yang juga dapat membantuku untuk terus semangat. Di sekolah ini, kami berusaha untuk menjadi aktif melalaui organisasi yang ada. Aku masuk di organisasi Rohis dan Osis, sedangkan Ela di organisasi Rohis, MPK dan Pramuka. Kami berharap kami membuat perubahan baik bagi diri kami sendiri, orang lain dan sekolah ini menuju perubahan yang lebih baik.

            Dari organisasi Rohis, kami memulai perubahan bagi diri kami sendiri. Disini kami diajarkan berbagai hal : untuk lebih mencintai Agama  kami, berprilaku sesuai Alquran dan Hadist, menjalin hubungan persaudaraan, belajar toleransi, saling berbagi satu sama lain, dan masih banyak lagi. Di organisasi ini, kami dibina oleh dua orang yang sangat luar biasa, membina kami tanpa pamrih, yaitu kak Dian Mustoni sekaligus membina di Forum Arrijal dan kak Netis Nopis membina di Forum Annisa. Kami dikenalkan dengan berbagai hal yang sebelumnya tidak kami ketahui. Di sinilah persaudaraan kami lebih erat dengan anggota lainnya maupun dengan kakak-kakak alumni yang juga ikut berperan disetiap kegiatan di organisasi ini.

            Di organisasi ini terdapat orang-orang yang sangat luar biasa salah satunya kak Azlina Kakak Kelas kami. Aku dan kak Azlina memang sudah saling kenal sejak kecil. Karena kami berada di satu Sekolah Dasar yang sama. Banyak hal yang mengagumkan darinya, salah satunnya adalah perjuangannya untuk melalaui hidup dengan mengunakan hijab. Allah sangat sayang kepadannya karena allah memberikan ujian melalaui sindiran tetangga yang selalu diterimannya. Bukanlah hal yang mudah untuk membuat perubahan, memutuskan untuk berhijab adalah hal yang sangat luar biasa apalagi jika ada hinaan dan sindiran dari para tetangga, itu bisa menjadi beban baginya. Tapi dengan keyakinan dania tau Allah bersamanya ia percaya bahwa ia pasti bisa melalui itu semua.

            Salah satu hal yang dapat aku pelajari adalah bahwasannya apapun yang menjadi kewajiban bagi kita haruslah dilaksanakan. Menutup aurat, memakai hijab adalah kewajiban bagi setiap wanita muslim. Begitu pula dengan kak Sovia Sudirman sahabat dari kak Azlina, ia orang yang baik hati, penyayang hanya saja ia midah dijailin. Ia memiliki mimpi untuk bisa memiliki adik sayangnya sibungsu Sovia tidak pernah bisa memiliki adik, walaupun begitu aku siap untuk jadi adik baginnya. Kak Sovia adalah Ketua Keputrian di Forum Annisa yang cinta makanan ha..haaa. Just kidding

            Aku  juga memiliki teman seorang pecinta sastra, hobinya membaca buku ia bermimpi ingin jadi penulis yang profesional. Ia suka mengarang lagu, puisi, dan cerpen. Ia adalah orang yang sangat berani mencoba hal-hal yang baru, selalu menjadi yang pertama untuk mengemungkakan pendapat. Aku sangat mengagumi kepribadian yang ia miliki itu. Aku biasa memanggilnya dengan nama abang Rizki.

            Selain dari mereka masih banyak lagi orang-orang yang sangat luar biasa disini seperti: kak Tzya Asrada yang menjadi ketua osis, Afrizal Fauzi yang menjadi Ketua Rohis, kakak imutku Kakak Nadia, Kak Yuliani, dan Banyak lagi yang menjadi motivasi bagiku.

             Aku memang sudah diajarkan tentang agama sejak kecil, tapi rasanya asih ada yang kurang daam hidupku. Walaupun sudah diajarkan tentang agama, aku tidak memanfaatkan hal itu sebaik-baiknya. Sebelumnya ibadahku sangat berantakan. Selalu telat waktu dalam sholat, tidak khusuk, bahkan pernah tinggal dan terlupakan. Sifatku yang cuek membuatku tidak terlalu mementingkan ibadahku. Aku menjali ibadahku dengan rasa malas. Memilih menonton televisi, tidur dan membaca komik dari pada melakukan hal-hal yang tidak berguna. Aku membuang wakt dan kesempatan yang aku punya.

            Hidupku berubah ketika aku bertemu dengan motivator-motivator yang sangat hebat. Hidupku berubah setelah menonton Film Negeri 5 Menara film yang luar biasa yang memberikan motivasi bagi penontonnya. Itulah yang sekarang yang membuat aku mengerti bahwa semua impian yang sudahku targetkan tidak akan begitu saja tanpa polesan pejuang dan kesungguhan. Kesuksesan yang aku inginkan tidak datang dengan sendiri, tapi kesuksesan itu haruslah di kejar dengan usaha, kesungguhan dan tawakal selalu kepada Allah.

            Dan salah satu tokoh dalm film itu bilang jika kamu ingin sukses maka   “manjadda wa jada” karena orang yang bersungguh-sungguh yang akan berhasil dan akupun juga akan suses jika aku memang bersungguh-sungguh dan bertawakal kepada Allah.


***SEKIAN***


Nama                           : Filza Syadi

TTL                             : Batu Gadang, 18 April 2000

Pekerjaan/Status        : Pelajar di SMAN 1 Sunagai Geringing

No. Telepon                : 085363747806
 
JUARA III LOMBA MENULIS KISAH INSPIRATIF
TEMA “FROM ZERO TO HERO WITH RAMADHAN”
Allah memiliki jawaban terbaik di setiap rencanaNYA. Setiap perjalanan hidup kita pasti ada nafas cintaNYA..Setiap guratan nasib,setiap kejadian pasti tak lepas dari campur tangan Allah.Bahkan setiap helaian daun yang melayu lembut menuju tanahpun, Allah yang mengatur semuanya. Tapi sebagai insan yang lemah, kadangkala kita menyikapi dengan sikap bermacam-macam.Terkadang setiap keinginan yang tidak terwujud, kita anggap sebagai nasib buruk. Kadar kesabaran dan prasangka kita menjadi salah satu penyebab dari sikap tersebut.

Itulah yang pernah  saya rasakan beberapa tahun silam. Kelulusan di Universitas Andalas melalui jalur UMPTN membuat saya harus merantau dari daerah asal di Sumatera Utara menuju  Padang. Sebuah daerah yang sebelumnya sama sekali belum pernah saya kenal dan  kunjungi. Tak ada sanak saudara apalagi kenalan di daerah itu. Walaupun jurusan yang saya pilih di Unand merupakan pilihan terakhir dan tak sepenuh hati, namun terpaksa saya mengambilnya. Selain karena bingung mau kuliah dimana,  rasanya peluang untuk  lulus universitas negeri belum tentu terulang lagi.

Menjadi anak rantau tidak selalu mudah. Perbedaan geografis, adat budaya dan bahasa menjadi kendala utama saat itu. Karena mayoritas masyarakat Padang menggunakan bahasa minang dalam aktivitas sehari-hari, termasuk di kampus. Masa perploncoan yang melelahkan terasa lebih melelahkan karena saya sama sekali tak paham apa yang dikatakan senior. Tugas-tugas mata kuliah, kegiatan laboratorium, laporan harian yang harus diketik dengan mesin tik mendesak setiap hari ,membuat diri semakin tertekan.

Perasaan sedih semakin sering menghampiri saat merasakan kerinduan yang besar kepada keluarga. Saat itu belum ada handphone yang bisa menghubungkan dengan keluarga dengan hanya sekali klik tombol. Saya yang dahulunya tak pernah berlama-lama jauh dari rumah menanggung homesickyang teramat berat. Saat tertekan sering saya berfikir, kenapa saya mesti terdampar di sini dan terkadang saya merasa terbuang karena jauh dari keluarga. Tak terhitung berapa kali saya menangis diam-diam menanggung kesedihan. Kadang muncul fikiran untuk menyerah saja. Saya akan berhenti kuliah dan menunggu UMPTN berikutnya untuk memilih jurusan di Medan saja.

Tapi, ternyata Allah mempersiapkan rencana lain. Saya mendapat kos di sebuah rumah kos yang dikelola FORSTUDI (Forum Studi Islam) Faperta Unand. Rumah kos itu mereka namakan Wisma. Sayapun tinggal disana tanpa disengaja. Awalnya kebetulan bertemu seorang senior di auditorium Unand saat sedang mencari kos, saya pun diajak tinggal di wisma tersebut. Pertama tinggal bersama 6 orang penghuni wisma membuat saya sedikit kaget.Karena mereka terlihat ramah,baik dan berbicara dengan lembut. Berbanding terbalik dengan senior di kampus yang selalu jaga wibawa dan garang selama masa perploncoan. Sikap keras saya yang terkadang masih terbawa-bawa selalu mereka sikapi dengan kebaikan.

Tidak terasa beberapa bulan menjalani perkuliahan semester I, Ramadhan yang mulia pun menjelang. Rasa rindu terhadap keluarga di kampung semakin menggumpal saat saya akan menjalani ramadhan pertama jauh dari keluarga. Nuansa syahdu ramadhan akan terasa semakin syahdu karena saya harus terbiasa mandiri. Lidah pasti akan begitu merindukan masakan ibu yang biasanya menemani sahur dan berbuka.

Tapi ternyata tinggal di wisma sedikit melunturkan kekhawatiran saya tadi. Bantuan sangat saya rasakan di sana. Dengan ukhuwah yang diciptakan di semua sudut rumah dari setiap penghuninya membuat ramadhan kali itu terasa berbeda. Saya yang merupakan satu-satunya junior di sana, perlahan diajak mengenal islam yang indah. Ramadhan diisi dengan sahur bersama, kultum sesudah subuh, berlomba-lomba tilawah Al-qur’an dan menghafalnya, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Upaya menyemarakkan ramadhan tidak hanya dilakukan di dalam wisma tetapi juga diamalkan di sekitar. Semua anggota wisma terlibat aktif dalam kepanitiaan  pesantren kilat remaja di masjid kompleks kami tinggal. Wisma juga memiliki program berbagi ta’jil/makanan untuk buka puasa ke tetangga sekitar rumah. Dengan makanan yang kami masak bergantian.

Saat itu saya merasakan suasana sebuah keluarga! Malah beberapa kegiatan bagi saya adalah hal yang baru dan belum pernah saya lakukan saat masih di kampung dulu. Saya merasakan suatu keasyikan. Suatu gairah baru dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Tapi ternyata garis besarnya, Allah mengarahkan saya untuk lebih mengenal islam. Suatu saat kelak dalam hidup saya, baru saya menyadari bahwa itu mungkin cara Allah menyampaikan hidayah-NYA  tanpa saya sadari.

Momentum ramadhan kali itu, menjadi titik tolak saya mendapat sebuah kesadaran. Bahwa ilmu agama yang saya miliki masihlah teramat kurang. Baca’an Alqur’an saya masih perlu perbaikan dengan belajar ilmu tajwid. Jilbab yang saya kenakan secara seadanya dan terkadang bongkar pasang ternyata menyimpan makna besar bagi  harga diri seorang muslimah sehingga harus dijaga kekonsistenannya. Dan banyak kesadaran lain yang muncul. Walaupun beberapa ilmu keislaman telah saya ketahui sebelumnya namun kesadaran dalam melaksanakannyalah yang menjadi pembeda. Melaksanakan dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan.

Rencana Allahlah sebaik-baik rencana. CintaNYA lah yang mengalirkan sebuah kesadaran di dalam kalbu laksana air dingin yang menyejukkan kegersangan. Kesadaran itu diiringi tekad untuk menjadi muslimah yang semakin baik walaupun itu akan melalui proses yang tidak sebentar. Dan,saya merasakan islam yang indah melalui ramadhan syahdu tersebut.

Bertahun telah berlalu, terkadang saya diingatkan kejadian-kejadian lampau. Dan waktu pulalah yang telah menunjukkan jawaban, bahwa Allah menghantarkan saya ke Padang bukanlah karena saya terbuang atau terdampar tanpa arti. Tapi ada sebuah grand design dariNYA bahwa kelak saya akan menempuh jalan dimana setiap langkah kaki dan perbuatan diniatkan hanya untukNYA, segala tujuan diakhirkan hanya pada ridhoNYA, dan saya berharap itu akan senantiasa terjaga dengan memegang keistiqomahan pada agamaNYA. Hingga kelak di akhirnya saat masa pertanggungjawaban itu tiba.

Amiin Ya Rabbal ‘Alamin..









BIODATA

Nama   : FITRI SARI ANGKATTTL     : Sidikalang, 22 Agustus 1979

HP       : 085265759901


JUARA II LOMBA MENULIS KISAH INSPIRATIF
TEMA “FROM ZERO TO HERO WITH RAMADHAN”


Malam mengerik ke arah rembulan yang telah menapak di langit hitam. Menyapa larut yang telah bergemulai sedu. Dengan begitulah, aku menjajaki sebuah mimpi yang telah lama diinginkan. Tentu saja banyak impian dan beberapa sajak-sajak tua yang ingin kutulis bersamanya. Entah kenapa harus bermimpi? Tentu hal inilah yang harus diupayakan seorang manusia yang hidup di bumi Allah tercinta ini. Dengan begitu, aku akan berupaya agar deretan mimpi-mimpi itu bisa tercapai menjadi sebuah kenyataan dan dikabulkan Allah sebagai hadiah terindah untukku.
Tahun ini menjadi tahun ke dua dan semester ke empat masa perkuliahan di salah satu kampus kebanggan orang Minang di Padang. Memang sebelumnya, aku tidak berkehendak untuk kuliah di sana. Apalagi diizinkan mengenyam bangku perkuliahan dalam menggapai mimpi tersebut.  Tetapi ada nikmat baru yang datang membawaku ke pintu pencapaian hingga bisa kuliah sampai saat sekarang ini.

Aku percaya Allah menolong hamba-Nya yang mengalami kesusahan dan aku juga percaya akan ada sebuah rintangan maupun halangan dalam menggapai pencapaian yang telah Allah berikan padaku. Tentu saja cara indah yang diberikan Allah harus diselesaikan dengan cara indah pula. Agar yang indah-indah tersebut menjadi sekuntum mimpi yang akan kuhidangkan bersama orang-orang terkasih di sekelilingku.

Aku masih bertanya atas nikmat manakah yang belum Allah kabulkan padaku. Di tahun 2015 lalu, alhamdulillah buku perdanaku resmi diluncurkan dan memberikan semangat teristimewa dalam hari-hari yang telah berkelana bersamaku. Hingga deretan buku antologi cerpen dan puisi nasional juga turut memenuhi rak buku di kamar wismaku di Padang. Masya Allah, nikmat Tuhanmu manakah yang masih kau dustakan saat ini? Ya, aku tidak bisa untuk berkata demi mencapai nikmat yang telah Allah berikan padaku. Sampai-sampai aku malu membayangkan apa yang telah kubuat untuk-Nya. Salat pun masih sumbang, baca al-Qur’an masih terkendala waktu dan segala amalan yaumi pun masih saja kulalaikan. Akan tetapi, aku mencoba untuk membenahinya lewat mentoring  atau liqo’ bersama teman-teman yang berbeda fakultas denganku. Mungkin dengan cara inilah aku berusaha agar Allah tidak kecewa denganku, supaya Allah tidak kubohongi atas nikmat yang telah ia curahkan padaku.

            Tahun 2016 terus berlalu, hingga malam ini, malam kala tulisan ini kutuliskan demi berbagi inspirasi untuk sahabatku semua. Ya, minggu ini aku telah ditipu Allah. Allah dengan sengaja berhasil menipuku di bumi-Nya. Kenapa aku berpikir seperti itu? Ketika aku dekat dengan-Nya, ketika aku ingin bersama-Nya, dan saat itulah Allah mulai menjauh dan enggan bersamaku. Apakah aku  masih hina? Apakah aku tidak pantas bersama-Nya? Atau memang aku telah berdosa pada-Nya.

Malam ini mulailah hilang sebuah pinta yang tidak diberikan Allah padaku. Astaghfirullah dengan ucapanku. Jujur, air mata dan beberapa helai kekecewaanku terbang menjadi do’a penyelimut malam di bulan ramadan yang dingin ini. Benar menusuk rongga napas dan menohok hati yang hampir hancur berkeping. Aku kecewa. Ya, inilah kekecewaan yang sudah kutahan bersama-Nya lewat senyum dan air mata selama enam bulan terakhir ini. Akan tetapi, minggu ini terjatuh semua kesedihan atas kegagalanku yang mulai menggoyahkanku.

            Aku kecewa atas pengorbanan yang telah kuserahkan pada-Nya. Dari waktu tidurku dan waktu sempitku kuusahakan untuk mengingat-Nya. Mungkin waktu itulah aku hanya mengingat lewat sujud dan kerendahan hati atas aktivitas yang telah kulakukan hampir dua puluh empat jam yang melelahkan. Ya, semester inilah menjadi semeter paling melelahkan dari tiga semester yang lalu. Mungkin akan ada semester yang lebih menyibukkanku. Sehingga aku takut apakah aku akan melupakan-Nya lewat sujudku? Dan apakah Allah akan kembali menipuku dalam sujudku?

            Allah telah menipuku lewat do’a-do’a yang tidak ia kabulkan. Mungkin aku telah lama untuk menunggu hari bersejarah demi mewujudkan semua ini. Mungkin aku telah lelah menunggunya hingga timbul kekecewaan ini. Dari sebuah nilai semester yang tidak mencapai target menambah permasalahan dan kekecewaan di hidupku. Ditambah dengan beasiswaku yang hampir terancam diputus, karena belum ada kejelasan yang pasti dari pihak kampus. Entah aku yang terlalu egois pada Allah atau kekecewaanku yang telah memuncak. Sehingga aku dengan berani menuduh Allah telah berhasil menipuku. Astaghfirullah.

            Dari hal inilah, aku mulai mencoba untuk mengingat apa-apa yang telah kulakukan sebelumnya. Apakah waktu ketika aku curhat pada-Nya yang kurang menjadi faktor kenapa Allah tidak memberikannya. Apakah aku telah lalai mengerjakan kewajibanku pada-Nya hingga aku terlalu menuntut pada-Nya. Hingga Allah merasa bahwa semuanya patutlah kuterima untuk kembali dekat bersama-Nya lagi. Tentu setelah Salat Isya’ dan Tarawih malam ini, aku telah mencoba untuk melupakan hal tersebut dan kembali ingin lebih dekat dan sempurna di mata-Nya. Memang tiada manusia yang sempurna di dunia ini. Sebab kesempurnaan hanyalah milik Allah.

            Subhanallah. Mungkin dengan cara inilah Allah memberikan hukuman bagiku. Mungkin dengan semacam ini Allah memberikan inspirasi dalam menulis hal ini. Sebab aku belum pernah mencoba menulis kisah inspirasi semacam ini. Kemungkinan besar akan ada kado terindah yang paling Allah rahasiakan padaku, agar tangis dan kekhilafan itu menjadi sebuah kenyataan yang Allah janjikan. Mungkin saja Allah memberikan ujian ini agar aku bersabar demi menunggu kado indah itu datang padaku. Masya Allah. Hingga malam ini aku masih percaya akan ada kado terindah dan teristimewa yang Allah berikan padaku. Apakah besok atau lusa atau bulan depan? Entah semua takdir—Allah-lah yang menentukannya. Hingga aku sadar bukan Allah yang menipuku, tetapi sifatkulah yang menipu Allah di waktu sujudku dan di hari-hariku.


Pariaman, 10 Juni 2016

23:16 WIB




Biodata Penulis :

Arif Rahman Hakim, lahir di Desa Sikapak Mudik Pariaman, 11 September 1996. Setelah menamatkan sekolah di SMK Negeri 2 Pariaman, ia  melanjutkan studi di Universitas Andalas jurusan Sastra Daerah Minangkabau angkatan 2014. Di kampus ia menjadi aktivis di bidang kajian ilmiah dan syiar Islam FSI FIB Unand. Ia bisa dihubungi di nomor handphone: 0822 8820 6484.





JUARA I LOMBA MENULIS KISAH INSPIRATIF
TEMA “FROM ZERO TO HERO WITH RAMADHAN”

AlexaRank

Diberdayakan oleh Blogger.

Tayangan

Popular Posts

Fanspage

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *