Berpenat-penatlah dalam dakwah .... Berlelah-lelah di dalamnya,boleh jadi saat amal kita tak cukup ,maka butir-butir airmata dan tetesan keringat itulah yang akan menjadi syafaat kita kelak.....ALLAHU AKBAR!

Jumat, 22 Juli 2016

Allah memiliki jawaban terbaik di setiap rencanaNYA. Setiap perjalanan hidup kita pasti ada nafas cintaNYA..Setiap guratan nasib,setiap kejadian pasti tak lepas dari campur tangan Allah.Bahkan setiap helaian daun yang melayu lembut menuju tanahpun, Allah yang mengatur semuanya. Tapi sebagai insan yang lemah, kadangkala kita menyikapi dengan sikap bermacam-macam.Terkadang setiap keinginan yang tidak terwujud, kita anggap sebagai nasib buruk. Kadar kesabaran dan prasangka kita menjadi salah satu penyebab dari sikap tersebut.

Itulah yang pernah  saya rasakan beberapa tahun silam. Kelulusan di Universitas Andalas melalui jalur UMPTN membuat saya harus merantau dari daerah asal di Sumatera Utara menuju  Padang. Sebuah daerah yang sebelumnya sama sekali belum pernah saya kenal dan  kunjungi. Tak ada sanak saudara apalagi kenalan di daerah itu. Walaupun jurusan yang saya pilih di Unand merupakan pilihan terakhir dan tak sepenuh hati, namun terpaksa saya mengambilnya. Selain karena bingung mau kuliah dimana,  rasanya peluang untuk  lulus universitas negeri belum tentu terulang lagi.

Menjadi anak rantau tidak selalu mudah. Perbedaan geografis, adat budaya dan bahasa menjadi kendala utama saat itu. Karena mayoritas masyarakat Padang menggunakan bahasa minang dalam aktivitas sehari-hari, termasuk di kampus. Masa perploncoan yang melelahkan terasa lebih melelahkan karena saya sama sekali tak paham apa yang dikatakan senior. Tugas-tugas mata kuliah, kegiatan laboratorium, laporan harian yang harus diketik dengan mesin tik mendesak setiap hari ,membuat diri semakin tertekan.

Perasaan sedih semakin sering menghampiri saat merasakan kerinduan yang besar kepada keluarga. Saat itu belum ada handphone yang bisa menghubungkan dengan keluarga dengan hanya sekali klik tombol. Saya yang dahulunya tak pernah berlama-lama jauh dari rumah menanggung homesickyang teramat berat. Saat tertekan sering saya berfikir, kenapa saya mesti terdampar di sini dan terkadang saya merasa terbuang karena jauh dari keluarga. Tak terhitung berapa kali saya menangis diam-diam menanggung kesedihan. Kadang muncul fikiran untuk menyerah saja. Saya akan berhenti kuliah dan menunggu UMPTN berikutnya untuk memilih jurusan di Medan saja.

Tapi, ternyata Allah mempersiapkan rencana lain. Saya mendapat kos di sebuah rumah kos yang dikelola FORSTUDI (Forum Studi Islam) Faperta Unand. Rumah kos itu mereka namakan Wisma. Sayapun tinggal disana tanpa disengaja. Awalnya kebetulan bertemu seorang senior di auditorium Unand saat sedang mencari kos, saya pun diajak tinggal di wisma tersebut. Pertama tinggal bersama 6 orang penghuni wisma membuat saya sedikit kaget.Karena mereka terlihat ramah,baik dan berbicara dengan lembut. Berbanding terbalik dengan senior di kampus yang selalu jaga wibawa dan garang selama masa perploncoan. Sikap keras saya yang terkadang masih terbawa-bawa selalu mereka sikapi dengan kebaikan.

Tidak terasa beberapa bulan menjalani perkuliahan semester I, Ramadhan yang mulia pun menjelang. Rasa rindu terhadap keluarga di kampung semakin menggumpal saat saya akan menjalani ramadhan pertama jauh dari keluarga. Nuansa syahdu ramadhan akan terasa semakin syahdu karena saya harus terbiasa mandiri. Lidah pasti akan begitu merindukan masakan ibu yang biasanya menemani sahur dan berbuka.

Tapi ternyata tinggal di wisma sedikit melunturkan kekhawatiran saya tadi. Bantuan sangat saya rasakan di sana. Dengan ukhuwah yang diciptakan di semua sudut rumah dari setiap penghuninya membuat ramadhan kali itu terasa berbeda. Saya yang merupakan satu-satunya junior di sana, perlahan diajak mengenal islam yang indah. Ramadhan diisi dengan sahur bersama, kultum sesudah subuh, berlomba-lomba tilawah Al-qur’an dan menghafalnya, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Upaya menyemarakkan ramadhan tidak hanya dilakukan di dalam wisma tetapi juga diamalkan di sekitar. Semua anggota wisma terlibat aktif dalam kepanitiaan  pesantren kilat remaja di masjid kompleks kami tinggal. Wisma juga memiliki program berbagi ta’jil/makanan untuk buka puasa ke tetangga sekitar rumah. Dengan makanan yang kami masak bergantian.

Saat itu saya merasakan suasana sebuah keluarga! Malah beberapa kegiatan bagi saya adalah hal yang baru dan belum pernah saya lakukan saat masih di kampung dulu. Saya merasakan suatu keasyikan. Suatu gairah baru dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Tapi ternyata garis besarnya, Allah mengarahkan saya untuk lebih mengenal islam. Suatu saat kelak dalam hidup saya, baru saya menyadari bahwa itu mungkin cara Allah menyampaikan hidayah-NYA  tanpa saya sadari.

Momentum ramadhan kali itu, menjadi titik tolak saya mendapat sebuah kesadaran. Bahwa ilmu agama yang saya miliki masihlah teramat kurang. Baca’an Alqur’an saya masih perlu perbaikan dengan belajar ilmu tajwid. Jilbab yang saya kenakan secara seadanya dan terkadang bongkar pasang ternyata menyimpan makna besar bagi  harga diri seorang muslimah sehingga harus dijaga kekonsistenannya. Dan banyak kesadaran lain yang muncul. Walaupun beberapa ilmu keislaman telah saya ketahui sebelumnya namun kesadaran dalam melaksanakannyalah yang menjadi pembeda. Melaksanakan dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan.

Rencana Allahlah sebaik-baik rencana. CintaNYA lah yang mengalirkan sebuah kesadaran di dalam kalbu laksana air dingin yang menyejukkan kegersangan. Kesadaran itu diiringi tekad untuk menjadi muslimah yang semakin baik walaupun itu akan melalui proses yang tidak sebentar. Dan,saya merasakan islam yang indah melalui ramadhan syahdu tersebut.

Bertahun telah berlalu, terkadang saya diingatkan kejadian-kejadian lampau. Dan waktu pulalah yang telah menunjukkan jawaban, bahwa Allah menghantarkan saya ke Padang bukanlah karena saya terbuang atau terdampar tanpa arti. Tapi ada sebuah grand design dariNYA bahwa kelak saya akan menempuh jalan dimana setiap langkah kaki dan perbuatan diniatkan hanya untukNYA, segala tujuan diakhirkan hanya pada ridhoNYA, dan saya berharap itu akan senantiasa terjaga dengan memegang keistiqomahan pada agamaNYA. Hingga kelak di akhirnya saat masa pertanggungjawaban itu tiba.

Amiin Ya Rabbal ‘Alamin..









BIODATA

Nama   : FITRI SARI ANGKATTTL     : Sidikalang, 22 Agustus 1979

HP       : 085265759901


JUARA II LOMBA MENULIS KISAH INSPIRATIF
TEMA “FROM ZERO TO HERO WITH RAMADHAN”


Malam mengerik ke arah rembulan yang telah menapak di langit hitam. Menyapa larut yang telah bergemulai sedu. Dengan begitulah, aku menjajaki sebuah mimpi yang telah lama diinginkan. Tentu saja banyak impian dan beberapa sajak-sajak tua yang ingin kutulis bersamanya. Entah kenapa harus bermimpi? Tentu hal inilah yang harus diupayakan seorang manusia yang hidup di bumi Allah tercinta ini. Dengan begitu, aku akan berupaya agar deretan mimpi-mimpi itu bisa tercapai menjadi sebuah kenyataan dan dikabulkan Allah sebagai hadiah terindah untukku.
Tahun ini menjadi tahun ke dua dan semester ke empat masa perkuliahan di salah satu kampus kebanggan orang Minang di Padang. Memang sebelumnya, aku tidak berkehendak untuk kuliah di sana. Apalagi diizinkan mengenyam bangku perkuliahan dalam menggapai mimpi tersebut.  Tetapi ada nikmat baru yang datang membawaku ke pintu pencapaian hingga bisa kuliah sampai saat sekarang ini.

Aku percaya Allah menolong hamba-Nya yang mengalami kesusahan dan aku juga percaya akan ada sebuah rintangan maupun halangan dalam menggapai pencapaian yang telah Allah berikan padaku. Tentu saja cara indah yang diberikan Allah harus diselesaikan dengan cara indah pula. Agar yang indah-indah tersebut menjadi sekuntum mimpi yang akan kuhidangkan bersama orang-orang terkasih di sekelilingku.

Aku masih bertanya atas nikmat manakah yang belum Allah kabulkan padaku. Di tahun 2015 lalu, alhamdulillah buku perdanaku resmi diluncurkan dan memberikan semangat teristimewa dalam hari-hari yang telah berkelana bersamaku. Hingga deretan buku antologi cerpen dan puisi nasional juga turut memenuhi rak buku di kamar wismaku di Padang. Masya Allah, nikmat Tuhanmu manakah yang masih kau dustakan saat ini? Ya, aku tidak bisa untuk berkata demi mencapai nikmat yang telah Allah berikan padaku. Sampai-sampai aku malu membayangkan apa yang telah kubuat untuk-Nya. Salat pun masih sumbang, baca al-Qur’an masih terkendala waktu dan segala amalan yaumi pun masih saja kulalaikan. Akan tetapi, aku mencoba untuk membenahinya lewat mentoring  atau liqo’ bersama teman-teman yang berbeda fakultas denganku. Mungkin dengan cara inilah aku berusaha agar Allah tidak kecewa denganku, supaya Allah tidak kubohongi atas nikmat yang telah ia curahkan padaku.

            Tahun 2016 terus berlalu, hingga malam ini, malam kala tulisan ini kutuliskan demi berbagi inspirasi untuk sahabatku semua. Ya, minggu ini aku telah ditipu Allah. Allah dengan sengaja berhasil menipuku di bumi-Nya. Kenapa aku berpikir seperti itu? Ketika aku dekat dengan-Nya, ketika aku ingin bersama-Nya, dan saat itulah Allah mulai menjauh dan enggan bersamaku. Apakah aku  masih hina? Apakah aku tidak pantas bersama-Nya? Atau memang aku telah berdosa pada-Nya.

Malam ini mulailah hilang sebuah pinta yang tidak diberikan Allah padaku. Astaghfirullah dengan ucapanku. Jujur, air mata dan beberapa helai kekecewaanku terbang menjadi do’a penyelimut malam di bulan ramadan yang dingin ini. Benar menusuk rongga napas dan menohok hati yang hampir hancur berkeping. Aku kecewa. Ya, inilah kekecewaan yang sudah kutahan bersama-Nya lewat senyum dan air mata selama enam bulan terakhir ini. Akan tetapi, minggu ini terjatuh semua kesedihan atas kegagalanku yang mulai menggoyahkanku.

            Aku kecewa atas pengorbanan yang telah kuserahkan pada-Nya. Dari waktu tidurku dan waktu sempitku kuusahakan untuk mengingat-Nya. Mungkin waktu itulah aku hanya mengingat lewat sujud dan kerendahan hati atas aktivitas yang telah kulakukan hampir dua puluh empat jam yang melelahkan. Ya, semester inilah menjadi semeter paling melelahkan dari tiga semester yang lalu. Mungkin akan ada semester yang lebih menyibukkanku. Sehingga aku takut apakah aku akan melupakan-Nya lewat sujudku? Dan apakah Allah akan kembali menipuku dalam sujudku?

            Allah telah menipuku lewat do’a-do’a yang tidak ia kabulkan. Mungkin aku telah lama untuk menunggu hari bersejarah demi mewujudkan semua ini. Mungkin aku telah lelah menunggunya hingga timbul kekecewaan ini. Dari sebuah nilai semester yang tidak mencapai target menambah permasalahan dan kekecewaan di hidupku. Ditambah dengan beasiswaku yang hampir terancam diputus, karena belum ada kejelasan yang pasti dari pihak kampus. Entah aku yang terlalu egois pada Allah atau kekecewaanku yang telah memuncak. Sehingga aku dengan berani menuduh Allah telah berhasil menipuku. Astaghfirullah.

            Dari hal inilah, aku mulai mencoba untuk mengingat apa-apa yang telah kulakukan sebelumnya. Apakah waktu ketika aku curhat pada-Nya yang kurang menjadi faktor kenapa Allah tidak memberikannya. Apakah aku telah lalai mengerjakan kewajibanku pada-Nya hingga aku terlalu menuntut pada-Nya. Hingga Allah merasa bahwa semuanya patutlah kuterima untuk kembali dekat bersama-Nya lagi. Tentu setelah Salat Isya’ dan Tarawih malam ini, aku telah mencoba untuk melupakan hal tersebut dan kembali ingin lebih dekat dan sempurna di mata-Nya. Memang tiada manusia yang sempurna di dunia ini. Sebab kesempurnaan hanyalah milik Allah.

            Subhanallah. Mungkin dengan cara inilah Allah memberikan hukuman bagiku. Mungkin dengan semacam ini Allah memberikan inspirasi dalam menulis hal ini. Sebab aku belum pernah mencoba menulis kisah inspirasi semacam ini. Kemungkinan besar akan ada kado terindah yang paling Allah rahasiakan padaku, agar tangis dan kekhilafan itu menjadi sebuah kenyataan yang Allah janjikan. Mungkin saja Allah memberikan ujian ini agar aku bersabar demi menunggu kado indah itu datang padaku. Masya Allah. Hingga malam ini aku masih percaya akan ada kado terindah dan teristimewa yang Allah berikan padaku. Apakah besok atau lusa atau bulan depan? Entah semua takdir—Allah-lah yang menentukannya. Hingga aku sadar bukan Allah yang menipuku, tetapi sifatkulah yang menipu Allah di waktu sujudku dan di hari-hariku.


Pariaman, 10 Juni 2016

23:16 WIB




Biodata Penulis :

Arif Rahman Hakim, lahir di Desa Sikapak Mudik Pariaman, 11 September 1996. Setelah menamatkan sekolah di SMK Negeri 2 Pariaman, ia  melanjutkan studi di Universitas Andalas jurusan Sastra Daerah Minangkabau angkatan 2014. Di kampus ia menjadi aktivis di bidang kajian ilmiah dan syiar Islam FSI FIB Unand. Ia bisa dihubungi di nomor handphone: 0822 8820 6484.





JUARA I LOMBA MENULIS KISAH INSPIRATIF
TEMA “FROM ZERO TO HERO WITH RAMADHAN”

Senin, 20 Juni 2016



1.      Arif Rahman Hakim (Unand) : Allah Berhasil Menipuku

2.      Fitri Sari Angkat : Kado Indah di Ramadhan

3.      Filza Syadi (SMAN 1 Sungai Geringging) : Motivatorku

4.      Annisa Ainur Rahman (SMP IT Mutiara Kota Pariaman)

5.      Melisa F.Husna ( STIT SB Pariaman) : Ketika Hati Bicara

6.      Iis Muliati (SMAN I VII Koto Sungai Sarik): Hidayah DariNya

7.      Rizka Putri Alti (SMAN I PARIAMAN): Pendamping Senja Nan Hilang

8.      Ryanka Edila (Sman I Pariaman) : Kejora di Balik Purnama

9.      Razka Gusni ( Akbid BNM) : Anak Saudagar Milih Mandiri

10.  Addinul Fitri ( STIKES For dekock): Sulitnya Menjaga Hati


Selamat buat pemenang...

LDK FKM KHAIRU UMMAH STIT SB PARIAMAN





Hijaabku memang tidak menarik,

Tidak ada tutorial khusus untuk memakainya,

tidak perlu diputar-putar, dipelintir-pelintir, diperas-peras,

ditarik-tarik dan diikat-ikat.


No need tutorial for hijab syar’i because shariah is simple.


Hijaabku memang tidak menarik, karena fungsi hijaab adalah

untuk menyembunyikan perhiasan, jika aku sematkan hiasan-hiasan di atasnya, berbagai macam aplikasi

maka terpenuhikah fungsi hijaab yang dikehendaki oleh syari’at?


Hijaabku memang tidak menarik, karena aku memakainya bukan untuk menarik perhatian orang, aku pun tidak akan ‘ngoyo’ dalam mendakwahkan hijaab dengan menghias-hiasinya, memodifikasinya supaya muslimah ramai-ramai berhijaab.


Tapi pada akhirnya hanya kuantitas muslimah berhijaab yang bertambah, lantas bagaimana dengan kualitasnya?


Hijaabku memang tidak menarik, karena buat apa jika makhluk tertarik tetapi Pencipta membencinya karena hijaab yang kupakai menyimpang dari tuntunan syari’at?


Hijaabku memang tidak menarik, karena dalam surat An-Nur ayat 31 muslimah dilarang menampakkan perhiasannya kepada selain mahramnya, dan jika kuhias-hiasi hijaab-ku hingga terlihat menarik di mata selain mahramku, lantas bagaimana nasib ketaatanku kepada firman-Nya?


Hijaabku memang tidak menarik, dan bukankah hendaknya muslimah saat keluar rumah mematut dirinya di cermin untuk memastikan bahwa Allah ridha dengan hijaab-nya?


Bukankah sudah cukup peringatan Rasulullaah bahwa jika wanita keluar rumah maka syaitan akan menghiasinya?


Hijaabku memang tidak menarik, tetapi inilah salah satu caraku untuk berusaha taat pada perintah-Nya, ta’at pada tuntunan-Nya dalam berhijaab untuk menjauhkan diri dari perbuatan tabbaruj (bersolek) yang tercela.


Kita tahu fungsi hijaab???


bukankah untuk menutupi perhiasan & tidak menarik perhatian tapi kalau malah memperlihatkan perhiasan dan malah menjadi perhiasan itu sendiri serta menarik perhatian laki-laki ajnabi, maka itu bukan hijaab lagi hanya selembar kain tabaruj ya





Sumber : https://www.facebook.com/fkmku.stitsbpariaman/?fref=ts

AlexaRank

Diberdayakan oleh Blogger.

Tayangan

Popular Posts

Fanspage

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *